Minggu, 28 Februari 2010

DUNIA PENJARA

dalam suatu hadits disebutkan bahwa yang artinya kurang lebih seperti ini"dunia adalah penjara untuk orang-orang yang beriman dan jannah untuk orang-orang yang kafir"

saudaraku, hadits tersebut mengisyaratkan pada kita bahwa dunia ini hanyalah penjara untuk kita jika kita beriman, yaitu memenjarakan kita dari kenikmatan yang akan diberikan Allah kepada orang yang beriman nanti diakherat, karena kita orang beriman masih didunia maka tidak bisa masuk jannah, itulah dunia bagi orang beriman, ianya tak lebih bagai penjara/pembatas yang membatasi dirinya dengan jannah. Walaupun orang yang beriman itu kaya raya,hidup tenang, nyaman, tapi tetaplah dunia seperti penjara, keni'matannya tidak dapat menandingi dengan jannah yang dijanjikan oleh Alloh.

tapi wahai saudaraku, dunia ini seperti syurga buat orang kafir, karena hanya di dunia ini kesempatan mereka bersenang-senang dan nanti diakherat mereka akan mendapatkan siksaan yang sangat menyakitkan. walaupun mereka sangat sengsara di dunia tapi buat orang kafir kesengsaraan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan siksaan Alloh nanti di neraka.

wahai saudaraku mari kita raih kejayaan deggan mendapatkan jannahnya Alloh

Selasa, 19 Januari 2010

VIDEO KORBAN ABORSI

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepada kamu” (QS.: 17 Al-Isra’: 31)

Berisi 2 video korban aborsi, yang salah satunya merekam proses aborsi janin berusia 12 minggu.

Na'udzubillahi min dzaalik


DOWNLOAD

Sabtu, 16 Januari 2010

Software Islami GRATISS!!


HOLY QUR'AN VIEWER
'Qur'an Viewer 2.8 merupakan software yang berisi Al-Qur'an dan terjemahannya dalam bahasa inggris. Bagi yang tertarik silakan DOWNLOAD









FARAIDH
Software Faroidh ini telah diupload ke server Isnet (ftp.isnet.org) sesuai dengan keinginan dari pembuatnya, Sdr. Agung Yulianto, agar software ini dapat disebarkan dan dimanfaatkan seluas-luasnya oleh kaum Muslimin. Berisi perhitungan waris dengan cepat dan mudah, serta dilengkapi dengan penjelasan mengenai hukum waris Islam. (Sumber : Fiqh Sunnah jilid 14, karangan : As-Sayyid Sabiq, cetakan 2 -- Bandung: Alma'arif, 1988)

DOWNLOAD FAROIDH




HIJRI CALENDAR

Perhitungan kalender sistem bulan ini bukan saja mempresentasikan keIslaman namun juga selalu membawa kenangan terhadap sejarah perjuangan Nabi dan para sahabat. Mengetahui kalender ini juga memudahkan kita dalam memantau hari besar Islami secara tepat.



DOWNLOAD HIJRI CALENDAR









Qur'an In Word ver 0.0.1

AlQuran in MS-Word ver 0.0.1 merupakan free program untuk memudahkan menampilkan ayat quran di word document.


DOWNLOAD QUR'AN IN WORD 0.0.1



Sabtu, 21 November 2009

APA BENAR ?

Seorang temanku pernah berkomentar kepada salah seorang temanku yang lain : “Ngapain harus menggunjing orang, wong dia diejek di hadapannya saja tidak marah. Daripada mengunjing dia yang akhirnya akan mendapatkan dosa lebih baik mengejeknya saja langsung di hadapannya.”
Ketika mendengar komentar temanku tersebut, aku merenung sejenak dan berpikir apakah benar yang dikatakan olehnya itu? Memang sekilas jika kita dengarkan ucapannya tersebut seakan-akan tidak ada salahnya, bahkan ucapannya itu tampaknya benar semua. Namun ternyata jika kita pahami lebih dalam lagi makna perkataannya tersebut, akan kita dapati bahwa perkataannya itu tidak semuanya tepat. Mengapa begitu?
Untuk mengetahui semua ini, coba kita bahas satu persatu ungkapan yang terdapat dalam komentarnya tersebut. Yang pertama, yaitu : menggunjing.
Menggunjing dalam bahasa arab disebut dengan Ghibah. Definisi ghibah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ذكرك اخاك بما يكره (Dzikruka akhaaka bimaa yakrahu) “Engkau menyebut perihal saudaramu dengan apa yang ia benci/tidak ia sukai” . Ghibah secara etimologi berasal dari kata ghaba-yaghibu-ghaibah yang berarti tidak hadir. Oleh karena itu definisi ghibah yang lengkap adalah menyebut-nyebut perihal seorang muslim yang tidak ia sukai di belakang dirinya /di saat ia tidak hadir. Jika seseorang menyebut perihal yang dibenci oleh saudaranya di hadapannya secara langsung maka bukan dinamakan ghibah, akan tetapi dinamakan dengan mencela, mengejek, mencemooh, mengolok-olok, ataupun menghina.
Menurut definisi ini, maka segala bentuk ucapan yang ditujukan kepada seorang muslim mengenai keadaan dirinya yang tidak ia sukai, baik dalam hal agama, kepribadian, jasmani, maupun keluarganya adalah termasuk dari ghibah, meskipun apa yang dikatakannya itu suatu kebenaran. Namun jika yang dikatakannya itu adalah suatu kebohongan maka dia telah menggunjingnya plus melakukan kebohongan terhadapnya.
Ghibah merupakan perbuatan yang mendatangkan dosa bagi pelakunya dan bahkan termasuk dari dosa besar. Dalam hal ini, Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman : ولايغتب بعضكم بعضا ايحب احدكم ان يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه (Walaa yaghtab ba’dlukum ba’dla, ayuhibbu ahadukum ayya’kula lahma akhihi maitan fakarihtumuuh) “Dan janganlah sebagian kalian mengghibah (menggunjing) sebagian yang lain, apakah seseorang dari kalian suka makan daging saudaranya sendiri yang telah menjadi bangkai?. Maka (padahal) kalian sama membenci (hal itu).”
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala membuat permisalan bahwa orang yang mengghibah saudaranya sama halnya dengan orang yang memakan bangkai (daging) saudaranya sendiri. Ini merupakan dalil bahwa ghibah merupakan dosa besar karena Allah subhanahu wa ta'ala menyamakan pelakunya dengan memakan bangkai manusia yaitu bangkai saudaranya sendiri. Padahal manusia yang berakal tidak akan pernah mau, tidak suka bahkan benci dan jijik untuk makan daging manusia, apalagi kalau sudah menjadi bangkai.
Dari pembahasan pertama ini, maka komentar teman tadi dalam masalah ghibah benar, karena dia mengatakan bahwa menggunjing itu membuahkan dosa bagi pelakunya.
Yang kedua, yaitu mengejek. Mengejek dalam bahasa arab dikenal dengan istilah istahzaa-yastahziu-istihzaan. Dalam bahasa indonesia, mengejek mempunyai beberapa padanan kata (sinonim) yang memiliki makna hampir sama yaitu: mencemooh, menghina, mengolok-olok, dan mencela. Dalam bahasa arab, kata mencela, menghina, mencemooh, dan yang semakna dengannya dikenal dengan istilah sabba, syatama, dan ‘aayara. Adapun definisi mengejek –dan kata yang bersinonim dengannya – adalah mengatakan sesuatu hal – yang tidak disuka - tentang diri seseorang langsung di hadapannya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah mencela orang muslim telah bersabda, سباب المسلم فسوق و قتاله كفر (Sibaabul muslimi fusuuqun wa qitaaluhu kufrun) “Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik sedangkan memeranginya adalah kekufuran” . Dari hadits ini jelas diketahui bahwa mencela – atau menghina, mencemooh, dan mengejek, - seorang muslim adalah salah satu dari perbuatan fasik. Fasik adalah keluar dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Mencela orang muslim digolongkan dalam perbuatan fasik karena Allah subhanahu wa ta'ala telah melarang kaum muslimin untuk saling mencela. Dalam Al-qur’anul karim, Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: ولا تلمزوا انفسكم ولا تنابزوابالالقاب بئس لاثم الفسوق بعدالأيمان (...Walaa talmizuu anfusakum walaa tanaabazuu bilalqoobi, bi’sa litsmulfusuuqu ba’dal iimaan) “...Dan janganlah kalian saling cela-mencela dan janganlah saling memanggil dengan sebutan yang tidak enak (laqob), sebab sebutan yang paling tidak enak adalah sebutan fasik sesudah beriman”. Oleh karena itu, jika di antara kaum muslimin ada yang saling mencela atau mengejek maka mereka telah melanggar larangan-Nya dan melakukan suatu kefasikan.
Dari hadits ini juga kita bisa mengambil pengertian bahwa perbuatan mencela atau mengejek, serta mencemooh seorang muslim akan mengakibatkan pelakunya mendapatkan dosa. Dosa yang ia dapatkan itu tidak ada kaitannya dengan marahnya orang yang dicela atau diejeknya, namun perbuatan mencela atau mengejek itu sendirilah yang menyebabkan dirinya mendapatkan dosa.
Untuk lebih memperjelas pembahasan ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits yang lain:وإن امرء شتمك و عايرك بأمر هو فيك فلا تعايره بأمرهوفيه ودعه يكون وباله عليه و اجره لك ولا تسبن شيأ (Wainim ruun syatamaka wa ‘aayaraka biamrin hua fiika falaa tu’aayirhu biamrin hua fiihi wada’hu, yakuunu wabaaluhu ‘alaihi waajruhu laka walaa tasubbanna sya’ian) “Dan jika seseorang menghina dan mencelamu dengan suatu perkara yang ada pada dirimu, maka janganlah engkau mencelanya dengan perkara yang ada pada dirinya dan biarkanlah (jangan kau balas) dia. Akibat perbuatan (dosa)nya menjadi tanggungannya dan pahalanya bagimu. Dan janganlah engkau mencela sesuatu pun”
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang orang yang diejek atau dicela dengan suatu hal yang terdapat pada dirinya untuk membalas mencela atau mengejek diri si pencela dengan mengungkapkan suatu hal yang terdapat pada dirinya. Hal ini disebabkan karena dosa yang timbul dari perbuatan mengejek atau mencela orang akan menjadi tanggungan si pengejek atau si pencela, sedangkan orang yang diejek atau dicela akan mendapatkan pahala.
Dari lafal ودعه يكون وباله عليه و اجره لك (...Wada’hu yakuunu wabaaluhu ‘alaihi wa ajruhu laka) “...Dan biarkanlah dia. Dosanya akan menjadi tanggungannya dan pahalanya bagimu” jelas dapat diketahui bahwa orang yang mencela orang lain pasti akan mendapatkan dosa, selagi orang yang dicela tidak membalas celaan tersebut. Begitu pula dalam keadaan ini orang yang dicela akan mendapatkan pahala dengan sebab sikap sabarnya dalam menghadapi celaan itu.
Namun, jika orang yang dicela membalas celaan si pencela, maka dia kemungkinan berada pada salah satu dari 2 keadaan, yaitu:
Pertama: ia tidak mendapat pahala karena telah membalas celaan tersebut dan begitu pula orang yang mencela juga tidak mendapatkan dosa karena celaannya telah dibalas. Dalam keadaan ini kedua-duanya imbang/seri.
Kedua, orang yang dicela akan mendapatkan dosa disebabkan kelewat batasannya dalam membalas celaan tersebut.
Dua keadaan ini merupakan kesimpulan yang dapat diambil dari pemahaman hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbunyi:المتسابان ما قالا فعلى البادي منهما حتى يعتدي المظلوم (Al-mutasaabbaani maa qaalaa fa’alal badiy minhumaa hatta ya’tadiyal madzuumu) “Dua orang yang saling mencela, apa-apa yang keduanya katakan maka (dosanya) atas orang yang memulai dari keduanya sehingga orang yang didzolimi berbuat kelewat batas”
Dari pembahasan masalah mengejek ini, kita ketahui bahwa marah tidaknya orang yang diejek tidak menjadi sebab ketidak adaannya dosa bagi orang yang mengejek. Karena mengejek itu sendiri merupakan perbuatan yang mendatangkan dosa bagi pelakunya.
Oleh karena itu, dengan adanya keterangan ini, maka komentar teman di atas yang seakan-akan membolehkan mengejek orang lain dengan alasan orang tersebut tidak akan marah, tidak bisa diterima dan pernyataan tersebut adalah suatu pernyataan yang salah. Wallahu a’lam.

NORMA PERGAULAN ISLAMI

Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu berkata:

"لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ اَلِهِ وَ سَلَّمَ اْلمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَاْلمُتَرَجِّلَاتِ مِنَ النِّسَاء"

Artinya :
“ Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan perempuan yang berlagak seperti laki-laki.”
Setelah membaca hadits ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul di benak pembaca, seperti : Apakah laknat Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam ini hanya akan dtimpakan kepada kaum lelaki yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dalam cara berpakaian dan cara berperilaku, dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum lelaki juga dalam cara berpakaian dan cara berperilaku saja? Apakah laknat yang dimaksud adalah laknat dalam arti kemarahan, kebencian, dan penjauhan diri dari rahmat, belas kasih, dan pertolongan dari-Nya? Apakah makna leksikal dan denotatif tidak mencakup mereka yang melakukan penyimpangan terhadap fitrah yang harus diperankan oleh masing-masing jenis, baik secara biologis maupun psikologis, seperti orang tua renta yang berlagak kekanak-kanakan, orang miskin yang berlagak jutawan, ataupun seorang cendekia yang berlagak bodoh dengan melepaskan diri dari berbagai problematika yang sebenarnya mampu ia selesaikan? Atau adakah arti lain di balik semua itu yang mencakup segala jenis penyimpangan, termasuk terjadinya penukaran lapangan pekerjaan, di mana kaum lelaki bekerja sebagaimana kaum wanita dan sebaliknya, kaum wanita bekerja sebagaimana kaum lelaki?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin artikel yang ditulis oleh Dr. Najib Ammarah – sebagaimana yang akan penulis kemukakan di bawah ini – dapat menjadi sedikit jawaban atas beberapa pertanyaan yang muncul di benak para pembaca. Beliau (Dr. Ammarah) telah mengulas permasalahan di atas secara ilmiah sebagaimana yang beliau tulis di dalam majalah Ad-Dakwah berikut ini :
“Di antara kondisi lelaki dan wanita adalah bahwa di dalam tubuh laki-laki terdapat hormon yang dimiliki oleh wanita (progresteron), sedangkan wanita juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh laki-laki (testoteron). Sehingga laki-laki mempunyai potensi naluriah yang dimiliki kaum wanita, seperti kelembutan, kasih sayang, kelenturan tubuh dan bertingkah laku seperti wanita. Begitu pula seorang wanita juga memiliki potensi yang dimiliki oleh laki-laki, seperti watak keras, bengis, munculnya otot-otot dan bertingkah laku seperti laki-laki. Hal itu akan terbukti apabila laki-laki menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan wanita, atau wanita menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan laki-laki.
Munculnya penyembunyian sifat-sifat kewanitaan dengan berbagai cara yang ditempuh misalnya dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan kaum laki-laki, sehingga organ tubuhnya menjadi kasar, otot-ototnya tumbuh dengan kuat, tumbuhnya rambut di tubuh atau nada suara yang berat, atau dengan cara membaurkan diri dengan kaum laki-laki di setiap waktu dan tempat tanpa batas dan aturan, menjadi suatu tradisi yang tak aneh lagi. Bahkan laki-laki sudah tak bisa lagi merasakan arti pentingnya kaum wanita. Kaum wanita sendiri pun sudah kehilangan sifat-sifat kewanitaannya. Semua itu adalah salah satu faktor penyebab munculnya perilaku homoseksual di kalangan masyarakat, seperti yang dialami masyarakat Inggris. Di sana kaum wanita seakan melepaskan predikatnya sebagai wanita, sehingga kaum laki-laki tidak lagi membutuhkan mereka dan justru sudah merasa cukup dengan kehadiran sesama jenisnya. Di saat itulah kaum wanita tak ada harganya lagi.
Mungkin sulit dibayangkan, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Padahal kaum wanita masih tetap di sisi mereka, kecuali jika kaum wanita sudah tidak punya daya tarik lagi. Tetapi kenyataan berbicara, bahwa hal itu benar-benar terjadi. Kaum wanita sebenarnya tidak akan pernah kehilangan daya tariknya di hadapan kaum laki-laki, kecuali jika mereka telah bebas sebebas-bebasnya bergaul dengan kaum laki-laki; atau berperilaku seperti laki-laki, atau pun menyibukkan diri dengan pekerjaan laki-laki.
Sejarah membuktikan, bahwa kurangnya perhatian laki-laki terhadap wanita benar-benar terjadi pada permulaan runtuhnya peradaban Yunani. Hal itu terjadi setelah kaum wanita membebaskan dirinya dengan cara yang sama seperti apa yang didengung-dengungkan pada abad modern ini. Maka hancurlah bangunan keluarga, musnahlah kelangsungan keturunan dan tersebarlah berbagai macam kemesuman antar sesama jenis. (baca: lesbi dan homoseksual)
Sejarah telah mengabadikan sebuah potret sebuah rumah pelacuran di kota Pompeii (sebuah kota di kawasan Roma) setelah terjadinya kehancuran peradaban Romawi; yang mengidentifikasikan adanya kebebasan melakukan peran yang tidak sesuai dengan tuntutan naluriah dan pengaruhnya terhadap proses hancurnya peradaban tersebut. Hal itu semakin menyakinkan bahwa hancurnya sebuah peradaban diakibatkan oleh keterlibatan kaum wanita di dalam lapangan pekerjaan kaum laki-laki dan kecenderungan kaum wanita yang semakin parah dalam mengumbar hawa nafsu serta meninggalkan rasa malu.”
Islam benar-benar memelihara naluri orang-orang mukallaf, dimana manusia memiliki instink hewani yang membuat wanita tertarik kepada laki-laki atau sebaliknya laki-laki tertarik kepada wanita. Berdustalah orang yang tidak mengakui kenyataan tersebut. Wanita yang berada di tengah-tengah kaum laki-laki pasti akan merasakan gejolak naluri hewani tersebut, sekalipun tingkat keyakinan agamanya bisa menangkap sinyal-sinyal bahaya yang ditimbulkannya. Begitu pula laki-laki yang berada di tengah-tengah kaum wanita pasti akan merasakan gejolak naluri hewaninya, sekalipun ia memiliki tingkat keyakinan dan keimanan yang dapat menangkap sinyal bahaya yang akan ditimbulkannya.
Jika seseorang mampu mengesampingkan ketertarikan-ketertarikan tersebut karena kuatir diketahui oleh masyarakat atau karena takut dengan undang-undang dan tradisi yang dianut dalam masyarakatnya, maka hal itu tidak berarti ketertarikannya itu tidak ada padanya, melainkan bisa jadi merupakan indikasi keberhasilan usaha dan pemikirannya untuk mengelabuhi pandangan masyarakat dan tradisi yang dianut serta undang-undang yang berlaku di dalamnya.
Di antara sifat daya tarik naluri hewani adalah bahwa akal terpaksa harus tunduk pada kesenangan-kesenangan yang dituntutnya. Instink, perasaan, keyakinan, dan prinsip yang dimiliki oleh manusia tidak mengandung sesuatu yang dapat menuntut pola pikir dan perilakunya ke arah kewajiban dan mencegah pola pikir dan perilakunya tunduk kepada langkah-langkah yang dikehendaki oleh hawa nafsu serta hal-hal yang menjadi tuntutan nalurinya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan adanya peraturan yang dapat menjaganya!
Islam adalah peraturan Tuhan yang bertugas menyelaraskan, menertibkan, dan memberikan pertolongan agar setiap individu tunduk kepada undang-undang wahyu dari Tuhan serta mematuhinya baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan. Hal itu tidak lain adalah agar suatu masyarakat dapat mencapai kesuksesan ataupun kemajuan yang dicita-citakan.
Aturan tersebut telah menetapkan adanya keharusan pembagian job discription bagi masing-masing jenis yang tidak bisa ditukar satu sama lain. Sebab masing-masing job telah disesuaikan dengan kemampuannya. Di samping itu dimaksudkan pula untuk menjaga agar akal tidak tunduk begitu saja kepada daya tarik laki-laki terhadap wanita dan sebaliknya yang dapat membawa konsekuensi negatif.
Demikianlah, Seharusnya naluri manusia tidak diarahkan begitu saja kepada tujuan-tujuan yang muluk-muluk dan sasaran-sasaran yang jauh sekali kecuali sesuai dengan fitrah naluri yang dimilikinya, agar dapat mengekang tuntutan yang ada dan tidak mengumbar segala sesuatunya, demi hasil-hasil yang akan dicapainya.
Adanya pengaman yang bersifat naluri dalam diri seorang laki-laki maupun seorang wanita, yakni adanya ketahanan yang tercermin di dalam pengekangan, ketahanan yang muncul dari dalam, tercermin di dalam prinsip dan keyakinan, dimana jika kadar ketahanan itu mampu menuntut perasaan-perasaan dan mengarahkannya, maka akan meningkatkan arti dan nilai keberadaan manusia. Tetapi apabila ketahanan tersebut berkadar rendah, maka akan merugikannya dan membuat manusia hancur, terbengkalai, dan terbelakang. Sehingga enggan melakukan hal-hal yang dapat memperkuat penyerahan diri sepenuhnya terhadap syari’at Allah subhanahu wa ta'ala . Sebab hanya dengan syari’at-Nya lah seseorang mampu mengaktualisasikan keteguhan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sehingga terwujudlah peningkatan dan kesempurnaan manusia serta tampaklah sosok insan mulia. Pada sisi lain syari’at tersebut tidak akan bisa mewujudkan hal itu, apabila masyarakatnya masih mentolerir campur aduk antara kaum laki-laki dan kaum wanita; atau menempatkan posisi masing-masing jenis kelamin dalam job yang dikerjakan bersama-sama, yang jelas tidak memungkinkan terjadinya ketertiban dan keteraturan pemenuhan tuntutan naluri manusia.”

BOLEHKAH MEMBUAT-BUAT HADITS MAUDHU’?

Al-hakim dan lain-lainnya telah menyebutkan bahwa ada seorang ahli zuhud yang gampang mengada-adakan hadits-hadits tentang fadhilah Al qur’an serta surat-suratnya. Lalu ada yang bertanya kepadanya,” Mengapa engkau lakukan hal ini?”
Ahli zuhud menjawab,” Kulihat banyak orang yang berzuhud mengenai al-qur’an. Maka aku pun senang menganjurkannya kepada manusia.”
Penanya berkata,” Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,”Barang siapa membuat kedustaan atas diriku secara sengaja, maka ia akan menduduki tempat duduknya dari api neraka.”
Ahli zuhud berkata,”Aku tidak membuat kedustaan atas diri beliau. Tapi aku membuat kedustaan bagi diri beliau.”
Maksudanya, kedustaan atas diri beliau dapat menimbulkan kebinasaan atas kaidah-kaidah Islam, merusak syariat dan hukum. Tapi tidak begitu halnya dengan membuat kedustaan bagi diri beliau. Karena membuat kedustaan bagi diri beliau justru merupakan anjuran untuk mengikuti syariatnya dan menyelusuri jejaknya.
Syaikh Izzuddin Abdus salam berkata, “Ucapan adalah sarana untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan yang terpuji memungkinkan dicapai dengan pembenaran maupun kedustaan. Tapi kedustaan adalah haram. Bila tujuan memungkinkan dicapai dengan pembenaran, maka kedustaan itu mubah bila memang pencapaian tujuan itu termasuk mubah, dan wajib andaikata pencapaian tujuan itu juga wajib. Inilah yang menjadi ukurannya.”
Tentang hal ini kita perlu mengucapkan la haula wa la quwwata illa billahi dan berta’awwudz kepada Allah.
Orang lain tentu merasa sangat heran bila ucapan seperti ini terlontar dari seseorang yang menggabungkan dirinya dalam kelompok mufassirin bagi Kitab Allah. Bahkan sebagian dari mereka ada pula yang disebut sebagai ahli ilmu ushul dan fiqih. Lalu fiqih macam apa yang ada pada orang yang tak mengetahui hal-hal yang harus diprioritaskan oleh ulama yang hakiki?
Syaikh di atas (ahli zuhud) yang memiliki kecenderungan sufisme tidak mengetahui bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kita dan menyempurnakan nikmat atas diri kita. Berarti kita tidak membutuhkan lagi seseorang yang menyempurnakan agama itu bagi kita, dengan cara mengada-adakan hadits dari dirinya sendiri.Seakan-akan ia hendak membuat batasan bagi Allah dan menguji Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Seakan-akan ia berkata kepada beliau: “Aku membuat kedustaan bagi dirimu, agar aku dapat menyempurnakan bagimu agamamu yang masih kurang dan menutup celah-celah kosong yang ada di dalamnya. Maka aku pun membuat beberapa hadits.”

MELIHAT DIRI SENDIRI

seorang tokoh ulama besar sedang sakit dan mendekati ajal. Tokoh-tokoh lain dan orang-orang shaleh yang mengetahui keadaannya ingin menengoknya, tetapi sang tokoh melarang mereka semua menjenguknya. Hanya seorang yang terkenal bakhil – yang terlalu mencintai dunia dan dirinya sendiri – yang diperkenankan menengoknya. Hal ini membuat orang-orang heran dan sebaliknya, membuat si bakhil gembira bukan main. Karena menurutnya, ini merupakan bukti dan pertanda bahwa penilaian orang-orang selama ini membenci dan menjauhinya salah belaka. Kalau sikap terlalu mencintai dunia dan diri sendiri dianggap jahat, mengapa justru tokoh alim yang dekat dengan Tuhannya, yang sedang dalam keadaan kritis ini, mengizinkannya menjenguk pada saat orang-orang lain dilarang.
Setelah si bakhil masuk ke dalam kamar sang tokoh, barulah semuanmya
Di pembaringannya, sang tokoh berkata lirih kepada si bakhil, “Lihatlah ke kaca jendela itu! Apa yang kau lihat?”
Si bakhil melihat ke kaca jendela, kemudian berkata, “ Saya melihat langit biru dan awan berarak-arak, juga gunung nun jauh di sana.”
“Apa lagi?”
“Saya melihat juga pohon-pohonan dan burung-burung terbang di udara.”
“Apa lagi?”
‘Saya juga melihat banyak orang lalu lalang di jalan dan bergerombol-gerombol di tepi jalan.”
Sang tokoh tersenyum tipis, kemudian katanya, “Ya, melalui kaca jendela itu kau bisa melihat apa saja. Bisa melihat kebesaran Allah dalam alam semesta ciptaan-Nya.” Sang tokoh berhenti sejenak, baru kemudian – sambil menunjuk cermin besar di kamar itu – melanjutkan berkata,” Sekarang kau tengoklah cermin di sampingmu ! Apa yang kau lihat?”
“Aku hanya melihat wajahku sendiri,” Kata si bakhil.
“Nah, kau lihat sendiri,” Kata sang tokoh kemudian, “Kaca jendela ataupun cermin adalah sama-sama kaca. Bedanya, di belakang kaca cermin ada lapisan tipis yang menyebabkan kau tidak bisa melihat apa-apa selain sosok dirimu sendiri. Kalau kau posok-kikis lapisan itu sampai bersih, niscaya cermin itupun akan seperti kaca jendela itu pula, dapat membuatmu melihat manusia di baliknya. Kau bisa melihat dunia.”
Sang tokoh berhenti sejenak, mengambil nafas yang mulai sesak, baru kemudian melanjutkan, “Begitu pulalah kau. Bila kau membiarkan materi dan hal-hal duniawi terus melekat pada dirimu, kau tidak mungkin melihat jauh. Tidak dapat melihat kenyataan, tidak bisa melihat kebenaran, tidak dapat melihat manusia sesamamu, tidak dapat melihat kebaikan, tidak dapat melihat keindahan hakiki. Untuk dapat melihat itu semua, kau harus membersihkan lapisan –yang sebenarnya sepele – yang menempel pada dirimu.”
Si bakhil yang egois itu pun tertunduk, meresapkan dawuh sang tokoh. Tetapi, seperti teringat sesuatu, dia pun memberanikan diri bertanya,” Tuanku Syeikh, mengapa tuanku mengizinkan aku sendiri menengok tuanku dan tidak memperkenankan yang lain?”
Sang tokoh pun menjawab, “Sebab, atas izin Allah, setelah kematianku, aku masih akan bertemu mereka nanti di hari hisab di hadapan Allah. Sementara kau, aku tidak akan melihatmu dan tidak akan bertemu kau lagi, apabila kau tidak merubah sikap dan perangaimu.”
Mendengar penuturan tokoh yang shaleh itu, si bakhil pu menangis tersedu-sedu dan seketika menyatakan taubat nashuha.
***
Boleh jadi setiap orang mencintai dirinya sendiri dan mempunyai potensi untuk menjadi egois. Namun, pandangan yang berlebihan terhadap materi dan segala yang bersifat duniawilah kiranya yang benar-benar menyeret orang menjadi pribadi yang egois. Kegilaan terhadap materi dan segala yang bersifat duniawi – yang sebetulnya sepele – itu kemudian memunculkan kebakhilan, keserakahan, arogansi, dan sifat-sifat lain yang cenderung mengabaikan, bahkan melecehkan pihak lain. ‘Sifat dasar’ manusia yang lain yang disebut makhluk sosial, paling jauh hanya mengantarkan pribadi yang egois kepada fanatisme kelompok yang pada gilirannya justru sering menyulut permusuhan yang lebih luas dan perang.
Sementara itu, tampaknya, hingga kini kehidupan dunia seperti terus dikuasai oleh ‘konsep hidup’ yang serba materi dan duniawi. Doktrin-doktrin ‘kemajuan hidup’ yang masih dikunyah-kunyah dan terus dijejalkan, seperti kapitalisme, komunisme, dan banyak isme-isme yang lain, adalah doktrin-doktrin yang sepenuhnya atau paling tidak bermula dari orientasi kematerian dan keduniawian itu.
Kita sendiri selama puluhan tahun, seperti dididik untuk mencintai dunia ini secara berlebihan. Mereka yang dianggap pemimpin dangan bangga mencontohkan kesuksesan mereka dalam kehidupan duniawi yang mewah melimpah. Sering kali juga dengan memberikan teladan dan semangat serta ‘etos kerja’ yang luar biasa dalam memperoleh kekayaan materi. Seolah-olah mereka akan hidup selama-lamanya. Falsafat adiluhung jawa, “ Urip ning donya iku ibarate namung mampir ngombe” (Orang hidup di dunia ini, ibaratnya hanyalah singgah minum) atau ungkapan hikmah, “Ad-Dunya mazra’atul akhirat” (Dunia ini adalah tempat menanam untuk dipanen di akhirat kelak) pun terlupakan oleh hingar-bingar mengejar materi. Maka, heranlah kita bila kemudian prinsip-prinsip mulia seperti kemanusiaan, persaudaraan, dan sebagainya takhluk setakhluk-takhluknya kepada kepentingan (duniawi)?
Kalau kini, negeri kita yang kaya-raya gemah ripah loh jinawi ini sampai mengalami keterpurukan sepeti sekarang ini (hutang yang melimpah, pengangguran yang meruah, TKI yang parah, para pemimpin yang serakah, hutan yang dijarah, hingga maraknya pertumpahan darah), bukankah merupakan akibat logis dari sikap dan perangai hasil didikan mencintai dunia yang berlebihan itu ? Bukankah benar kata mutiara yang mengatakan, “Hubbud Dunya ra’su kulli khathi-atin” , (Berlebihan mencintai dunia adalah biang segala kesalahan, sumber segala malapetaka)?
Bila jawabannya ya, maka apa yang kemudian akan kita lakukan? Innallaha laa yughayyiru maa bi qaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim, (Sungguh Allah tidak akan mengubah sesuatu(nikmat yang Ia anugerahkan) pada suatu kaum (menjadi laknat), sampai mereka sendirilah yang mengubah apa yang ada pada diri-diri mereka’. (Q.S.13:11)
Wallahu a’lam.