Sabtu, 17 April 2010

MEMBERILAH SEBANYAK-BANYAKNYA DAN JANGAN MEMINTA SEBANYAK-BANYAKNYA

MEMBERILAH SEBANYAK-BANYAKNYA DAN JANGAN MEMINTA SEBANYAK-BANYAKNYA
Kita ingat kata-kata diatas di pada film lascar pelangi yang dijadikan pinsip hidup oleh pak Harfan dan diajarkan kepada para lascar pelangi.
Alloh dan rosulnya mengajari kita untuk banyak member dan tidak banyak menerima dari orang lain.
Ingatkah kita akan sabda Rosul”tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”.
Sekarang banyak orang yang sudah tidak lagi mau untuk member kepada sesama, bahkan mereka saling meminta. Orang kaya pun masih meminta dan bahkan mencuri. Hal ini sangatlah ironis. Sebenarnya tidak ironis Karena memang kebanyakan orang tidak berpegang teguh pada hokum Alloh sehingga hati mereka gersang dari cahaya Alloh dan akhirnya mereka berjalan di gelapan, dan mengambil apa yang bukan hak mereka. Tapi jika manusia mau berpegang pada Alloh maka mereka akan berjalan di tempat yang terang sehingga mereka mampu membedakan mana yang milik mereka dan mana yang bukan milik mereka.
Banyak orang sudah tidak sadar bahwa pada harta mereka ada hak orang-orang miskin. Mereka tidak mau memberikan hak orang miskin kepada yang berhak, bahkan diperparah dengan mengambil harta orang miskin. Begitulah manusia jika ia mendapat satu gunung emas maka dia akan meminta gunung emas yang lain kecuali orang-orang yang dimulyakan Alloh.
Padahal jika manusia mau menyedekahkan apa yang ada pada mereka maka Alloh akan melipat gandakannya menjadi berlipat-lipat ganda.
Memang orang yang kaya adalah orang yang kaya hati, orang yang merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Alloh dan mensyukurinya. So marilah kita memperkaya hati kita, jangan sampai hati kita merasa gersang karena hal-hal yang kita lakukan. Banggalah menjadi seorang moslem
Dan katakana we are the moslem

SURAT CINTA UNTUK ISTRIKU

SURAT CINTA UNTUK ISTRIKU
Dear bidadariku,
Malam itu membuat separuh hidupku berubah, banyak yang berubah bahkan. Malam itu aku mengucapkan aqad nikah yang merubah hidupku, aqad yang kuucapkan hanya beberapa menit saja telah mengubah hidupku.
Alloh telah member bidadari yang akan menemani hidupku, yang akan menyemangati setiap langkahku dan yang telah menyelamatkanku dari neraka.
Wahai bidadariku, terimakasih telah mau menemaniku
Wahai bidadariku, kau telah mau hidup bersama walau kau tahu kau akan meninggalkan kehidupanmu yang lalu
Wahai bidadariku, kaulah permata yang dikirim Alloh untukku
Wahai bidadariku, mari kita melangkah bersama untuk menggapai ridhoNya
Wahai bidadariku, engkau adalah satu sayap yang diberikan ALloh kepadaku untuk melengkapi satu sayapku, supaya aku bisa terbang lebih tinggi dan lebih jauh lagi.
Wahai bidadariku, aku tahu engkau tidaklah sempurna, namun aku akan menerimamu seperti apa keadaanmu karena diriku juga tiada sempurna
Wahai bidadariku, engkau adalah penyejuk mataku
Wahai bidadariku, engkau memnegakkan aku ketika aku lemah
Wahai bidadariku, engkaulah permata terindah yang diberikan Alloh kepadaku
Wahai bidadariku, marilah melangkah menuju ridhoNya
Wahai bidadariku, hari esok akan dating pada kita dan kita akan melaluinya bersama untuk menggapai ridhoNya
Wahai bidadriku, marilah kita abdikan hidup kita untuk yang menciptakan kita
Wahai bidadariku, setiap langkah kita hendaklah menjadi pahala buat kita
Wahai bidadariku, marilah kita cintai Alloh diatas segala-galanya
Wahai bidadariku, jangan kau cintai aku melebihi cintamu pada yang menciptakan aku
Wahai bidadariku, ayolah kita langkah bersama menuju jannah Alloh nan kekal disana

Jumat, 19 Maret 2010

AKIBAT DARI SEBUAH KATA

seringkali kita merasakan dengan kata-kata kita menjadi lebih semangat dan tidak jarang pula dengan kata-kata kita menjadi sakit hati dan meloyokan semangat kita......oleh sebab itu rosululloh mengajari kita untukenjaga lisan kita.manusia terjerumus dlam neraka juga karena kata-kata.
ada ilustrasi dalam sebuah power point yang menggambarkan akibat dari suatu kata-kata.
DOWNLOAD DISINI

Kamis, 18 Maret 2010

ice breaking

serinh kali kita ingin melepaskan penat dengan sesuatu yang bermanfaat.....di bawah ini ada beberapa link yang bisa anda download untuk pelepas kebekuan anda
perbedaan orang pemarah dan humoris
inpirasi biji kopi
pengen tahu wajah anda???????klik disini

artikel-artikel buatan temen2 yang ada di ma'had

yang mau download artikel-artikel islami silahkan klik disini

Rabu, 17 Maret 2010

manusia dan binatang

banyak sekali kejadian di alam yang menggambarkan betapa kehidupan manusia itu: manusia adalah makhluk yang paling rakus........lihat saja pa ada binatang yang melebihi manusia dalam soal makan....binatang kan makan untuk memenuhi kebutuhannya saat itu juga, tapi manusia menyimpan(tapi manusia tetep boleh menyimpan makanan) dan bahkan mengambil yang bukan haqnya seperti korupsi yang memakan uang rakyat hingga triluyan rupiah....
dalam satu beberapa ayat disebutkan bahwa manusia akan menduduki tempat yang lebih hina dari pada binatang kalau dia kafir..........huhh............manusia manusia............
akankah kita terima menjadi seperti binatang padahal kita diberi akal oleh Alloh???????????tentu tidak kan??????????
oleh itu marilah kita bertaqwa kepada ALloh..........dalam sebuah ayat diterngakan bahwa binatang itu senantiasa berdzikir kepada Alloh, tapi kita?????????????????

Selasa, 02 Maret 2010

DAGELAN BANK CENTURU

BANK CENTURU

Baru-baru ini di negeri INDONESIAL heboh tentang bank centuru, konon ceritanya bank centuru mendapat pinjaman dari bank central di negeri indonesial, sampai akhirnya pemilik bank centuru tidak bisa mengembalikan pinjamannya yang sebesar 6,7 triliyun yahrupi( satuan mata uang di negeri indonesial)….wah kalo dimasukin karung, butuh berapa karung ya…., kalau buat beli kerupuk dapat berapa truk ya????????mungkin pabrik kerupuk pun di beli juga………….
Yang mambuat kasus bank centuru itu memjadi tegang (emangnya tali) adalah siapa yang bertanggung jawab pada kasus bank tersebut?????????
Untuk mencari siapa yang bertanggung jawab pada kasus bank centuru, DPR(DEWAN PERBIMBANGAN RAKYAT) negeri tersebut membuat suatu PANSUS (PANITIA SUKA USUS, maksudnya panitia yang suka mengisi ususnya sendiri) yang bertugas untuk mencari siapakah yang akan bertanggung jawab pada pengaliran dana untuk bank centuru… namanya juga aliran uang coba kalau aliran lumpur lah pin dhos pasti tidak mau mengusut, nyatanya sudah sekian tahun kasus lumpur lah pin dhos tidak tertangani…..
Berbulan bulan sudah PANSUS tersebut menjalankan tugasnya namun masih saja belum selesai, banyak perdebatan disana-sini karena di duga banyak kader partainya RAJA di negeri tersebut banyak yang harus bertanggung jawab, dan juga wakil raja dan mentri keuangan negeri tersebut juga terlibat……………………………………………….
Wah gimana ni nanti jadinya…………………………….
Partai raja negeri itu (PD( partai deso) yang dulu berkoalisi dengan PSK(partai suka kanan)saling serang satu dengan yang lain……………..duh mau jadi apa ya negeri itu…..kok seperti dagelan. Kalau dagelan menyenangkan karena yang lihat bisa ketawa, lha ini rakyatnya senep(skit perut)melihat tingkah polah dari pembesar negeri tersebut……………
Kapan yam au selesai…………
Katanya sih tanggal 2 bulan ngamret tahun 2010 PANSUS akan sidang Paripurna dengan DPR……………ya siapa yang tahu hasilnya lha wong namanya juga dagelan


Sebenarnya banyak kasus yang dihadapi negeri tersebut, baru-baru ini terjadi juga longsor dan banjir di negeri tersebut………….

Kenapa ya bisa terjadi???????????????????
Kata orang sih karena moral dari bangsa tersebut sudah remuk………..baru-baru ini aja segelintir orang mengajukan banding atas undang-undang di negeri tersebut tentang penistaan agama, yang semula UU tersebut melarang orang menistakan suatu agama oleh mereka diajukan untuk di cabut,,,,,,wah apa jadinya ya????????????????mungkin akan banyak nabi palsu…………, karena menganggap nabi hanya utusan tuhan maka mungkin nanti ada yang ngaku Tuhan, wah nanti banyak tuhan donk jadinya Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, trus jadinya Hantu……………..
Banyak kasus lagi
Orang mencuri semangka di negeri tersebut mendapat hukuman berbulan-bulan penjara, sedang koruptor milyaran yang kalo dibelikan semangka akan dapat sekalian lahannya tidak dihukum atau lolos hukum………………….
Itulah indonesial……………kapan maju maju…………….. kapan maju maju………………….tidak pernah maju…………

Minggu, 28 Februari 2010

DUNIA PENJARA

dalam suatu hadits disebutkan bahwa yang artinya kurang lebih seperti ini"dunia adalah penjara untuk orang-orang yang beriman dan jannah untuk orang-orang yang kafir"

saudaraku, hadits tersebut mengisyaratkan pada kita bahwa dunia ini hanyalah penjara untuk kita jika kita beriman, yaitu memenjarakan kita dari kenikmatan yang akan diberikan Allah kepada orang yang beriman nanti diakherat, karena kita orang beriman masih didunia maka tidak bisa masuk jannah, itulah dunia bagi orang beriman, ianya tak lebih bagai penjara/pembatas yang membatasi dirinya dengan jannah. Walaupun orang yang beriman itu kaya raya,hidup tenang, nyaman, tapi tetaplah dunia seperti penjara, keni'matannya tidak dapat menandingi dengan jannah yang dijanjikan oleh Alloh.

tapi wahai saudaraku, dunia ini seperti syurga buat orang kafir, karena hanya di dunia ini kesempatan mereka bersenang-senang dan nanti diakherat mereka akan mendapatkan siksaan yang sangat menyakitkan. walaupun mereka sangat sengsara di dunia tapi buat orang kafir kesengsaraan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan siksaan Alloh nanti di neraka.

wahai saudaraku mari kita raih kejayaan deggan mendapatkan jannahnya Alloh

Selasa, 19 Januari 2010

VIDEO KORBAN ABORSI

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepada kamu” (QS.: 17 Al-Isra’: 31)

Berisi 2 video korban aborsi, yang salah satunya merekam proses aborsi janin berusia 12 minggu.

Na'udzubillahi min dzaalik


DOWNLOAD

Sabtu, 16 Januari 2010

Software Islami GRATISS!!


HOLY QUR'AN VIEWER
'Qur'an Viewer 2.8 merupakan software yang berisi Al-Qur'an dan terjemahannya dalam bahasa inggris. Bagi yang tertarik silakan DOWNLOAD









FARAIDH
Software Faroidh ini telah diupload ke server Isnet (ftp.isnet.org) sesuai dengan keinginan dari pembuatnya, Sdr. Agung Yulianto, agar software ini dapat disebarkan dan dimanfaatkan seluas-luasnya oleh kaum Muslimin. Berisi perhitungan waris dengan cepat dan mudah, serta dilengkapi dengan penjelasan mengenai hukum waris Islam. (Sumber : Fiqh Sunnah jilid 14, karangan : As-Sayyid Sabiq, cetakan 2 -- Bandung: Alma'arif, 1988)

DOWNLOAD FAROIDH




HIJRI CALENDAR

Perhitungan kalender sistem bulan ini bukan saja mempresentasikan keIslaman namun juga selalu membawa kenangan terhadap sejarah perjuangan Nabi dan para sahabat. Mengetahui kalender ini juga memudahkan kita dalam memantau hari besar Islami secara tepat.



DOWNLOAD HIJRI CALENDAR









Qur'an In Word ver 0.0.1

AlQuran in MS-Word ver 0.0.1 merupakan free program untuk memudahkan menampilkan ayat quran di word document.


DOWNLOAD QUR'AN IN WORD 0.0.1



Sabtu, 21 November 2009

APA BENAR ?

Seorang temanku pernah berkomentar kepada salah seorang temanku yang lain : “Ngapain harus menggunjing orang, wong dia diejek di hadapannya saja tidak marah. Daripada mengunjing dia yang akhirnya akan mendapatkan dosa lebih baik mengejeknya saja langsung di hadapannya.”
Ketika mendengar komentar temanku tersebut, aku merenung sejenak dan berpikir apakah benar yang dikatakan olehnya itu? Memang sekilas jika kita dengarkan ucapannya tersebut seakan-akan tidak ada salahnya, bahkan ucapannya itu tampaknya benar semua. Namun ternyata jika kita pahami lebih dalam lagi makna perkataannya tersebut, akan kita dapati bahwa perkataannya itu tidak semuanya tepat. Mengapa begitu?
Untuk mengetahui semua ini, coba kita bahas satu persatu ungkapan yang terdapat dalam komentarnya tersebut. Yang pertama, yaitu : menggunjing.
Menggunjing dalam bahasa arab disebut dengan Ghibah. Definisi ghibah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ذكرك اخاك بما يكره (Dzikruka akhaaka bimaa yakrahu) “Engkau menyebut perihal saudaramu dengan apa yang ia benci/tidak ia sukai” . Ghibah secara etimologi berasal dari kata ghaba-yaghibu-ghaibah yang berarti tidak hadir. Oleh karena itu definisi ghibah yang lengkap adalah menyebut-nyebut perihal seorang muslim yang tidak ia sukai di belakang dirinya /di saat ia tidak hadir. Jika seseorang menyebut perihal yang dibenci oleh saudaranya di hadapannya secara langsung maka bukan dinamakan ghibah, akan tetapi dinamakan dengan mencela, mengejek, mencemooh, mengolok-olok, ataupun menghina.
Menurut definisi ini, maka segala bentuk ucapan yang ditujukan kepada seorang muslim mengenai keadaan dirinya yang tidak ia sukai, baik dalam hal agama, kepribadian, jasmani, maupun keluarganya adalah termasuk dari ghibah, meskipun apa yang dikatakannya itu suatu kebenaran. Namun jika yang dikatakannya itu adalah suatu kebohongan maka dia telah menggunjingnya plus melakukan kebohongan terhadapnya.
Ghibah merupakan perbuatan yang mendatangkan dosa bagi pelakunya dan bahkan termasuk dari dosa besar. Dalam hal ini, Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman : ولايغتب بعضكم بعضا ايحب احدكم ان يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه (Walaa yaghtab ba’dlukum ba’dla, ayuhibbu ahadukum ayya’kula lahma akhihi maitan fakarihtumuuh) “Dan janganlah sebagian kalian mengghibah (menggunjing) sebagian yang lain, apakah seseorang dari kalian suka makan daging saudaranya sendiri yang telah menjadi bangkai?. Maka (padahal) kalian sama membenci (hal itu).”
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala membuat permisalan bahwa orang yang mengghibah saudaranya sama halnya dengan orang yang memakan bangkai (daging) saudaranya sendiri. Ini merupakan dalil bahwa ghibah merupakan dosa besar karena Allah subhanahu wa ta'ala menyamakan pelakunya dengan memakan bangkai manusia yaitu bangkai saudaranya sendiri. Padahal manusia yang berakal tidak akan pernah mau, tidak suka bahkan benci dan jijik untuk makan daging manusia, apalagi kalau sudah menjadi bangkai.
Dari pembahasan pertama ini, maka komentar teman tadi dalam masalah ghibah benar, karena dia mengatakan bahwa menggunjing itu membuahkan dosa bagi pelakunya.
Yang kedua, yaitu mengejek. Mengejek dalam bahasa arab dikenal dengan istilah istahzaa-yastahziu-istihzaan. Dalam bahasa indonesia, mengejek mempunyai beberapa padanan kata (sinonim) yang memiliki makna hampir sama yaitu: mencemooh, menghina, mengolok-olok, dan mencela. Dalam bahasa arab, kata mencela, menghina, mencemooh, dan yang semakna dengannya dikenal dengan istilah sabba, syatama, dan ‘aayara. Adapun definisi mengejek –dan kata yang bersinonim dengannya – adalah mengatakan sesuatu hal – yang tidak disuka - tentang diri seseorang langsung di hadapannya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah mencela orang muslim telah bersabda, سباب المسلم فسوق و قتاله كفر (Sibaabul muslimi fusuuqun wa qitaaluhu kufrun) “Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik sedangkan memeranginya adalah kekufuran” . Dari hadits ini jelas diketahui bahwa mencela – atau menghina, mencemooh, dan mengejek, - seorang muslim adalah salah satu dari perbuatan fasik. Fasik adalah keluar dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Mencela orang muslim digolongkan dalam perbuatan fasik karena Allah subhanahu wa ta'ala telah melarang kaum muslimin untuk saling mencela. Dalam Al-qur’anul karim, Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: ولا تلمزوا انفسكم ولا تنابزوابالالقاب بئس لاثم الفسوق بعدالأيمان (...Walaa talmizuu anfusakum walaa tanaabazuu bilalqoobi, bi’sa litsmulfusuuqu ba’dal iimaan) “...Dan janganlah kalian saling cela-mencela dan janganlah saling memanggil dengan sebutan yang tidak enak (laqob), sebab sebutan yang paling tidak enak adalah sebutan fasik sesudah beriman”. Oleh karena itu, jika di antara kaum muslimin ada yang saling mencela atau mengejek maka mereka telah melanggar larangan-Nya dan melakukan suatu kefasikan.
Dari hadits ini juga kita bisa mengambil pengertian bahwa perbuatan mencela atau mengejek, serta mencemooh seorang muslim akan mengakibatkan pelakunya mendapatkan dosa. Dosa yang ia dapatkan itu tidak ada kaitannya dengan marahnya orang yang dicela atau diejeknya, namun perbuatan mencela atau mengejek itu sendirilah yang menyebabkan dirinya mendapatkan dosa.
Untuk lebih memperjelas pembahasan ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda dalam hadits yang lain:وإن امرء شتمك و عايرك بأمر هو فيك فلا تعايره بأمرهوفيه ودعه يكون وباله عليه و اجره لك ولا تسبن شيأ (Wainim ruun syatamaka wa ‘aayaraka biamrin hua fiika falaa tu’aayirhu biamrin hua fiihi wada’hu, yakuunu wabaaluhu ‘alaihi waajruhu laka walaa tasubbanna sya’ian) “Dan jika seseorang menghina dan mencelamu dengan suatu perkara yang ada pada dirimu, maka janganlah engkau mencelanya dengan perkara yang ada pada dirinya dan biarkanlah (jangan kau balas) dia. Akibat perbuatan (dosa)nya menjadi tanggungannya dan pahalanya bagimu. Dan janganlah engkau mencela sesuatu pun”
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang orang yang diejek atau dicela dengan suatu hal yang terdapat pada dirinya untuk membalas mencela atau mengejek diri si pencela dengan mengungkapkan suatu hal yang terdapat pada dirinya. Hal ini disebabkan karena dosa yang timbul dari perbuatan mengejek atau mencela orang akan menjadi tanggungan si pengejek atau si pencela, sedangkan orang yang diejek atau dicela akan mendapatkan pahala.
Dari lafal ودعه يكون وباله عليه و اجره لك (...Wada’hu yakuunu wabaaluhu ‘alaihi wa ajruhu laka) “...Dan biarkanlah dia. Dosanya akan menjadi tanggungannya dan pahalanya bagimu” jelas dapat diketahui bahwa orang yang mencela orang lain pasti akan mendapatkan dosa, selagi orang yang dicela tidak membalas celaan tersebut. Begitu pula dalam keadaan ini orang yang dicela akan mendapatkan pahala dengan sebab sikap sabarnya dalam menghadapi celaan itu.
Namun, jika orang yang dicela membalas celaan si pencela, maka dia kemungkinan berada pada salah satu dari 2 keadaan, yaitu:
Pertama: ia tidak mendapat pahala karena telah membalas celaan tersebut dan begitu pula orang yang mencela juga tidak mendapatkan dosa karena celaannya telah dibalas. Dalam keadaan ini kedua-duanya imbang/seri.
Kedua, orang yang dicela akan mendapatkan dosa disebabkan kelewat batasannya dalam membalas celaan tersebut.
Dua keadaan ini merupakan kesimpulan yang dapat diambil dari pemahaman hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbunyi:المتسابان ما قالا فعلى البادي منهما حتى يعتدي المظلوم (Al-mutasaabbaani maa qaalaa fa’alal badiy minhumaa hatta ya’tadiyal madzuumu) “Dua orang yang saling mencela, apa-apa yang keduanya katakan maka (dosanya) atas orang yang memulai dari keduanya sehingga orang yang didzolimi berbuat kelewat batas”
Dari pembahasan masalah mengejek ini, kita ketahui bahwa marah tidaknya orang yang diejek tidak menjadi sebab ketidak adaannya dosa bagi orang yang mengejek. Karena mengejek itu sendiri merupakan perbuatan yang mendatangkan dosa bagi pelakunya.
Oleh karena itu, dengan adanya keterangan ini, maka komentar teman di atas yang seakan-akan membolehkan mengejek orang lain dengan alasan orang tersebut tidak akan marah, tidak bisa diterima dan pernyataan tersebut adalah suatu pernyataan yang salah. Wallahu a’lam.

NORMA PERGAULAN ISLAMI

Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu berkata:

"لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ اَلِهِ وَ سَلَّمَ اْلمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَاْلمُتَرَجِّلَاتِ مِنَ النِّسَاء"

Artinya :
“ Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan perempuan yang berlagak seperti laki-laki.”
Setelah membaca hadits ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul di benak pembaca, seperti : Apakah laknat Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam ini hanya akan dtimpakan kepada kaum lelaki yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dalam cara berpakaian dan cara berperilaku, dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum lelaki juga dalam cara berpakaian dan cara berperilaku saja? Apakah laknat yang dimaksud adalah laknat dalam arti kemarahan, kebencian, dan penjauhan diri dari rahmat, belas kasih, dan pertolongan dari-Nya? Apakah makna leksikal dan denotatif tidak mencakup mereka yang melakukan penyimpangan terhadap fitrah yang harus diperankan oleh masing-masing jenis, baik secara biologis maupun psikologis, seperti orang tua renta yang berlagak kekanak-kanakan, orang miskin yang berlagak jutawan, ataupun seorang cendekia yang berlagak bodoh dengan melepaskan diri dari berbagai problematika yang sebenarnya mampu ia selesaikan? Atau adakah arti lain di balik semua itu yang mencakup segala jenis penyimpangan, termasuk terjadinya penukaran lapangan pekerjaan, di mana kaum lelaki bekerja sebagaimana kaum wanita dan sebaliknya, kaum wanita bekerja sebagaimana kaum lelaki?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin artikel yang ditulis oleh Dr. Najib Ammarah – sebagaimana yang akan penulis kemukakan di bawah ini – dapat menjadi sedikit jawaban atas beberapa pertanyaan yang muncul di benak para pembaca. Beliau (Dr. Ammarah) telah mengulas permasalahan di atas secara ilmiah sebagaimana yang beliau tulis di dalam majalah Ad-Dakwah berikut ini :
“Di antara kondisi lelaki dan wanita adalah bahwa di dalam tubuh laki-laki terdapat hormon yang dimiliki oleh wanita (progresteron), sedangkan wanita juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh laki-laki (testoteron). Sehingga laki-laki mempunyai potensi naluriah yang dimiliki kaum wanita, seperti kelembutan, kasih sayang, kelenturan tubuh dan bertingkah laku seperti wanita. Begitu pula seorang wanita juga memiliki potensi yang dimiliki oleh laki-laki, seperti watak keras, bengis, munculnya otot-otot dan bertingkah laku seperti laki-laki. Hal itu akan terbukti apabila laki-laki menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan wanita, atau wanita menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan laki-laki.
Munculnya penyembunyian sifat-sifat kewanitaan dengan berbagai cara yang ditempuh misalnya dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan kaum laki-laki, sehingga organ tubuhnya menjadi kasar, otot-ototnya tumbuh dengan kuat, tumbuhnya rambut di tubuh atau nada suara yang berat, atau dengan cara membaurkan diri dengan kaum laki-laki di setiap waktu dan tempat tanpa batas dan aturan, menjadi suatu tradisi yang tak aneh lagi. Bahkan laki-laki sudah tak bisa lagi merasakan arti pentingnya kaum wanita. Kaum wanita sendiri pun sudah kehilangan sifat-sifat kewanitaannya. Semua itu adalah salah satu faktor penyebab munculnya perilaku homoseksual di kalangan masyarakat, seperti yang dialami masyarakat Inggris. Di sana kaum wanita seakan melepaskan predikatnya sebagai wanita, sehingga kaum laki-laki tidak lagi membutuhkan mereka dan justru sudah merasa cukup dengan kehadiran sesama jenisnya. Di saat itulah kaum wanita tak ada harganya lagi.
Mungkin sulit dibayangkan, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Padahal kaum wanita masih tetap di sisi mereka, kecuali jika kaum wanita sudah tidak punya daya tarik lagi. Tetapi kenyataan berbicara, bahwa hal itu benar-benar terjadi. Kaum wanita sebenarnya tidak akan pernah kehilangan daya tariknya di hadapan kaum laki-laki, kecuali jika mereka telah bebas sebebas-bebasnya bergaul dengan kaum laki-laki; atau berperilaku seperti laki-laki, atau pun menyibukkan diri dengan pekerjaan laki-laki.
Sejarah membuktikan, bahwa kurangnya perhatian laki-laki terhadap wanita benar-benar terjadi pada permulaan runtuhnya peradaban Yunani. Hal itu terjadi setelah kaum wanita membebaskan dirinya dengan cara yang sama seperti apa yang didengung-dengungkan pada abad modern ini. Maka hancurlah bangunan keluarga, musnahlah kelangsungan keturunan dan tersebarlah berbagai macam kemesuman antar sesama jenis. (baca: lesbi dan homoseksual)
Sejarah telah mengabadikan sebuah potret sebuah rumah pelacuran di kota Pompeii (sebuah kota di kawasan Roma) setelah terjadinya kehancuran peradaban Romawi; yang mengidentifikasikan adanya kebebasan melakukan peran yang tidak sesuai dengan tuntutan naluriah dan pengaruhnya terhadap proses hancurnya peradaban tersebut. Hal itu semakin menyakinkan bahwa hancurnya sebuah peradaban diakibatkan oleh keterlibatan kaum wanita di dalam lapangan pekerjaan kaum laki-laki dan kecenderungan kaum wanita yang semakin parah dalam mengumbar hawa nafsu serta meninggalkan rasa malu.”
Islam benar-benar memelihara naluri orang-orang mukallaf, dimana manusia memiliki instink hewani yang membuat wanita tertarik kepada laki-laki atau sebaliknya laki-laki tertarik kepada wanita. Berdustalah orang yang tidak mengakui kenyataan tersebut. Wanita yang berada di tengah-tengah kaum laki-laki pasti akan merasakan gejolak naluri hewani tersebut, sekalipun tingkat keyakinan agamanya bisa menangkap sinyal-sinyal bahaya yang ditimbulkannya. Begitu pula laki-laki yang berada di tengah-tengah kaum wanita pasti akan merasakan gejolak naluri hewaninya, sekalipun ia memiliki tingkat keyakinan dan keimanan yang dapat menangkap sinyal bahaya yang akan ditimbulkannya.
Jika seseorang mampu mengesampingkan ketertarikan-ketertarikan tersebut karena kuatir diketahui oleh masyarakat atau karena takut dengan undang-undang dan tradisi yang dianut dalam masyarakatnya, maka hal itu tidak berarti ketertarikannya itu tidak ada padanya, melainkan bisa jadi merupakan indikasi keberhasilan usaha dan pemikirannya untuk mengelabuhi pandangan masyarakat dan tradisi yang dianut serta undang-undang yang berlaku di dalamnya.
Di antara sifat daya tarik naluri hewani adalah bahwa akal terpaksa harus tunduk pada kesenangan-kesenangan yang dituntutnya. Instink, perasaan, keyakinan, dan prinsip yang dimiliki oleh manusia tidak mengandung sesuatu yang dapat menuntut pola pikir dan perilakunya ke arah kewajiban dan mencegah pola pikir dan perilakunya tunduk kepada langkah-langkah yang dikehendaki oleh hawa nafsu serta hal-hal yang menjadi tuntutan nalurinya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan adanya peraturan yang dapat menjaganya!
Islam adalah peraturan Tuhan yang bertugas menyelaraskan, menertibkan, dan memberikan pertolongan agar setiap individu tunduk kepada undang-undang wahyu dari Tuhan serta mematuhinya baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan. Hal itu tidak lain adalah agar suatu masyarakat dapat mencapai kesuksesan ataupun kemajuan yang dicita-citakan.
Aturan tersebut telah menetapkan adanya keharusan pembagian job discription bagi masing-masing jenis yang tidak bisa ditukar satu sama lain. Sebab masing-masing job telah disesuaikan dengan kemampuannya. Di samping itu dimaksudkan pula untuk menjaga agar akal tidak tunduk begitu saja kepada daya tarik laki-laki terhadap wanita dan sebaliknya yang dapat membawa konsekuensi negatif.
Demikianlah, Seharusnya naluri manusia tidak diarahkan begitu saja kepada tujuan-tujuan yang muluk-muluk dan sasaran-sasaran yang jauh sekali kecuali sesuai dengan fitrah naluri yang dimilikinya, agar dapat mengekang tuntutan yang ada dan tidak mengumbar segala sesuatunya, demi hasil-hasil yang akan dicapainya.
Adanya pengaman yang bersifat naluri dalam diri seorang laki-laki maupun seorang wanita, yakni adanya ketahanan yang tercermin di dalam pengekangan, ketahanan yang muncul dari dalam, tercermin di dalam prinsip dan keyakinan, dimana jika kadar ketahanan itu mampu menuntut perasaan-perasaan dan mengarahkannya, maka akan meningkatkan arti dan nilai keberadaan manusia. Tetapi apabila ketahanan tersebut berkadar rendah, maka akan merugikannya dan membuat manusia hancur, terbengkalai, dan terbelakang. Sehingga enggan melakukan hal-hal yang dapat memperkuat penyerahan diri sepenuhnya terhadap syari’at Allah subhanahu wa ta'ala . Sebab hanya dengan syari’at-Nya lah seseorang mampu mengaktualisasikan keteguhan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sehingga terwujudlah peningkatan dan kesempurnaan manusia serta tampaklah sosok insan mulia. Pada sisi lain syari’at tersebut tidak akan bisa mewujudkan hal itu, apabila masyarakatnya masih mentolerir campur aduk antara kaum laki-laki dan kaum wanita; atau menempatkan posisi masing-masing jenis kelamin dalam job yang dikerjakan bersama-sama, yang jelas tidak memungkinkan terjadinya ketertiban dan keteraturan pemenuhan tuntutan naluri manusia.”

BOLEHKAH MEMBUAT-BUAT HADITS MAUDHU’?

Al-hakim dan lain-lainnya telah menyebutkan bahwa ada seorang ahli zuhud yang gampang mengada-adakan hadits-hadits tentang fadhilah Al qur’an serta surat-suratnya. Lalu ada yang bertanya kepadanya,” Mengapa engkau lakukan hal ini?”
Ahli zuhud menjawab,” Kulihat banyak orang yang berzuhud mengenai al-qur’an. Maka aku pun senang menganjurkannya kepada manusia.”
Penanya berkata,” Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,”Barang siapa membuat kedustaan atas diriku secara sengaja, maka ia akan menduduki tempat duduknya dari api neraka.”
Ahli zuhud berkata,”Aku tidak membuat kedustaan atas diri beliau. Tapi aku membuat kedustaan bagi diri beliau.”
Maksudanya, kedustaan atas diri beliau dapat menimbulkan kebinasaan atas kaidah-kaidah Islam, merusak syariat dan hukum. Tapi tidak begitu halnya dengan membuat kedustaan bagi diri beliau. Karena membuat kedustaan bagi diri beliau justru merupakan anjuran untuk mengikuti syariatnya dan menyelusuri jejaknya.
Syaikh Izzuddin Abdus salam berkata, “Ucapan adalah sarana untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan yang terpuji memungkinkan dicapai dengan pembenaran maupun kedustaan. Tapi kedustaan adalah haram. Bila tujuan memungkinkan dicapai dengan pembenaran, maka kedustaan itu mubah bila memang pencapaian tujuan itu termasuk mubah, dan wajib andaikata pencapaian tujuan itu juga wajib. Inilah yang menjadi ukurannya.”
Tentang hal ini kita perlu mengucapkan la haula wa la quwwata illa billahi dan berta’awwudz kepada Allah.
Orang lain tentu merasa sangat heran bila ucapan seperti ini terlontar dari seseorang yang menggabungkan dirinya dalam kelompok mufassirin bagi Kitab Allah. Bahkan sebagian dari mereka ada pula yang disebut sebagai ahli ilmu ushul dan fiqih. Lalu fiqih macam apa yang ada pada orang yang tak mengetahui hal-hal yang harus diprioritaskan oleh ulama yang hakiki?
Syaikh di atas (ahli zuhud) yang memiliki kecenderungan sufisme tidak mengetahui bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kita dan menyempurnakan nikmat atas diri kita. Berarti kita tidak membutuhkan lagi seseorang yang menyempurnakan agama itu bagi kita, dengan cara mengada-adakan hadits dari dirinya sendiri.Seakan-akan ia hendak membuat batasan bagi Allah dan menguji Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Seakan-akan ia berkata kepada beliau: “Aku membuat kedustaan bagi dirimu, agar aku dapat menyempurnakan bagimu agamamu yang masih kurang dan menutup celah-celah kosong yang ada di dalamnya. Maka aku pun membuat beberapa hadits.”

MELIHAT DIRI SENDIRI

seorang tokoh ulama besar sedang sakit dan mendekati ajal. Tokoh-tokoh lain dan orang-orang shaleh yang mengetahui keadaannya ingin menengoknya, tetapi sang tokoh melarang mereka semua menjenguknya. Hanya seorang yang terkenal bakhil – yang terlalu mencintai dunia dan dirinya sendiri – yang diperkenankan menengoknya. Hal ini membuat orang-orang heran dan sebaliknya, membuat si bakhil gembira bukan main. Karena menurutnya, ini merupakan bukti dan pertanda bahwa penilaian orang-orang selama ini membenci dan menjauhinya salah belaka. Kalau sikap terlalu mencintai dunia dan diri sendiri dianggap jahat, mengapa justru tokoh alim yang dekat dengan Tuhannya, yang sedang dalam keadaan kritis ini, mengizinkannya menjenguk pada saat orang-orang lain dilarang.
Setelah si bakhil masuk ke dalam kamar sang tokoh, barulah semuanmya
Di pembaringannya, sang tokoh berkata lirih kepada si bakhil, “Lihatlah ke kaca jendela itu! Apa yang kau lihat?”
Si bakhil melihat ke kaca jendela, kemudian berkata, “ Saya melihat langit biru dan awan berarak-arak, juga gunung nun jauh di sana.”
“Apa lagi?”
“Saya melihat juga pohon-pohonan dan burung-burung terbang di udara.”
“Apa lagi?”
‘Saya juga melihat banyak orang lalu lalang di jalan dan bergerombol-gerombol di tepi jalan.”
Sang tokoh tersenyum tipis, kemudian katanya, “Ya, melalui kaca jendela itu kau bisa melihat apa saja. Bisa melihat kebesaran Allah dalam alam semesta ciptaan-Nya.” Sang tokoh berhenti sejenak, baru kemudian – sambil menunjuk cermin besar di kamar itu – melanjutkan berkata,” Sekarang kau tengoklah cermin di sampingmu ! Apa yang kau lihat?”
“Aku hanya melihat wajahku sendiri,” Kata si bakhil.
“Nah, kau lihat sendiri,” Kata sang tokoh kemudian, “Kaca jendela ataupun cermin adalah sama-sama kaca. Bedanya, di belakang kaca cermin ada lapisan tipis yang menyebabkan kau tidak bisa melihat apa-apa selain sosok dirimu sendiri. Kalau kau posok-kikis lapisan itu sampai bersih, niscaya cermin itupun akan seperti kaca jendela itu pula, dapat membuatmu melihat manusia di baliknya. Kau bisa melihat dunia.”
Sang tokoh berhenti sejenak, mengambil nafas yang mulai sesak, baru kemudian melanjutkan, “Begitu pulalah kau. Bila kau membiarkan materi dan hal-hal duniawi terus melekat pada dirimu, kau tidak mungkin melihat jauh. Tidak dapat melihat kenyataan, tidak bisa melihat kebenaran, tidak dapat melihat manusia sesamamu, tidak dapat melihat kebaikan, tidak dapat melihat keindahan hakiki. Untuk dapat melihat itu semua, kau harus membersihkan lapisan –yang sebenarnya sepele – yang menempel pada dirimu.”
Si bakhil yang egois itu pun tertunduk, meresapkan dawuh sang tokoh. Tetapi, seperti teringat sesuatu, dia pun memberanikan diri bertanya,” Tuanku Syeikh, mengapa tuanku mengizinkan aku sendiri menengok tuanku dan tidak memperkenankan yang lain?”
Sang tokoh pun menjawab, “Sebab, atas izin Allah, setelah kematianku, aku masih akan bertemu mereka nanti di hari hisab di hadapan Allah. Sementara kau, aku tidak akan melihatmu dan tidak akan bertemu kau lagi, apabila kau tidak merubah sikap dan perangaimu.”
Mendengar penuturan tokoh yang shaleh itu, si bakhil pu menangis tersedu-sedu dan seketika menyatakan taubat nashuha.
***
Boleh jadi setiap orang mencintai dirinya sendiri dan mempunyai potensi untuk menjadi egois. Namun, pandangan yang berlebihan terhadap materi dan segala yang bersifat duniawilah kiranya yang benar-benar menyeret orang menjadi pribadi yang egois. Kegilaan terhadap materi dan segala yang bersifat duniawi – yang sebetulnya sepele – itu kemudian memunculkan kebakhilan, keserakahan, arogansi, dan sifat-sifat lain yang cenderung mengabaikan, bahkan melecehkan pihak lain. ‘Sifat dasar’ manusia yang lain yang disebut makhluk sosial, paling jauh hanya mengantarkan pribadi yang egois kepada fanatisme kelompok yang pada gilirannya justru sering menyulut permusuhan yang lebih luas dan perang.
Sementara itu, tampaknya, hingga kini kehidupan dunia seperti terus dikuasai oleh ‘konsep hidup’ yang serba materi dan duniawi. Doktrin-doktrin ‘kemajuan hidup’ yang masih dikunyah-kunyah dan terus dijejalkan, seperti kapitalisme, komunisme, dan banyak isme-isme yang lain, adalah doktrin-doktrin yang sepenuhnya atau paling tidak bermula dari orientasi kematerian dan keduniawian itu.
Kita sendiri selama puluhan tahun, seperti dididik untuk mencintai dunia ini secara berlebihan. Mereka yang dianggap pemimpin dangan bangga mencontohkan kesuksesan mereka dalam kehidupan duniawi yang mewah melimpah. Sering kali juga dengan memberikan teladan dan semangat serta ‘etos kerja’ yang luar biasa dalam memperoleh kekayaan materi. Seolah-olah mereka akan hidup selama-lamanya. Falsafat adiluhung jawa, “ Urip ning donya iku ibarate namung mampir ngombe” (Orang hidup di dunia ini, ibaratnya hanyalah singgah minum) atau ungkapan hikmah, “Ad-Dunya mazra’atul akhirat” (Dunia ini adalah tempat menanam untuk dipanen di akhirat kelak) pun terlupakan oleh hingar-bingar mengejar materi. Maka, heranlah kita bila kemudian prinsip-prinsip mulia seperti kemanusiaan, persaudaraan, dan sebagainya takhluk setakhluk-takhluknya kepada kepentingan (duniawi)?
Kalau kini, negeri kita yang kaya-raya gemah ripah loh jinawi ini sampai mengalami keterpurukan sepeti sekarang ini (hutang yang melimpah, pengangguran yang meruah, TKI yang parah, para pemimpin yang serakah, hutan yang dijarah, hingga maraknya pertumpahan darah), bukankah merupakan akibat logis dari sikap dan perangai hasil didikan mencintai dunia yang berlebihan itu ? Bukankah benar kata mutiara yang mengatakan, “Hubbud Dunya ra’su kulli khathi-atin” , (Berlebihan mencintai dunia adalah biang segala kesalahan, sumber segala malapetaka)?
Bila jawabannya ya, maka apa yang kemudian akan kita lakukan? Innallaha laa yughayyiru maa bi qaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim, (Sungguh Allah tidak akan mengubah sesuatu(nikmat yang Ia anugerahkan) pada suatu kaum (menjadi laknat), sampai mereka sendirilah yang mengubah apa yang ada pada diri-diri mereka’. (Q.S.13:11)
Wallahu a’lam.

Kapan aku semangat mencari ilmu..?!!

Segala pujian hanya milik Allah yang menciptakan manusia dan memberi mereka petunjuk. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada baginda Nabi Muhammad beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang selalu istiqamah mengikuti manhajnya hingga hari akhir. Amma ba’du :

Sebuah firman Allah menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang beriman dan mempunyai ilmu. Allah berfirman :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11) [المجادلة/11]
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang berilmu dengan beberapa derajat. Dan Allah itu Maha banyak khabar terhadap apa yang kalian lakukan. Al-Mujadilah: 11.

Ilmu adalah cahaya. Tanpa ilmu, manusia buta. Tanpa ilmu, manusia pasti binasa. Begitulah ilmu. Ia merupakan kebutuhan pokok manusia. Karena pentingnya ilmu, Allah memerintahkan nabi untuk selalu meminta tambahan ilmu.
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (114) [طه/114]
Dan katakanlah, “Wahai Pemeliaharaku! Tambahkanlah padaku ilmu.” Thaha: 114.

AKU TAK KUASA ATAS KESELAMATANMU...

Wahai anakku! Meskipun aku adalah seorang bapak yang sangat cinta terhadapmu, meskipun ayahmu ini adalah seorang ustadz, kyai, muballigh, tapi ketahuilah bahwa aku tak kuasa menyelamatkan dirimu dari sengatan api neraka kelak pada hari kiamat. Sadarlah... dan segera bangkitlah untuk mencari keselamatan akhiratmu. Ingatkah kau terhadap kisah dua istri Nabi, yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth? Meskipun mereka berkedudukan sebagai belahan hati suami (garwo/ sigaraning nyowo-jw.), namun Allah menjadikan mengabadikan nama mereka berdua di dalam kitab-Nya sebagai contoh calon penghuni neraka. Hal itu karena mereka mengkhiyanati suami, dan tidak mau beriman kepada Allah. Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak kuasa untuk menyelamatkan istri atau bahka anak mereka. Bahkan Para Nabi tidak kuasa atas keselamatan dirinya. Mereka selamat dari adzab kelak, hanya semata karena rahmat dan belas kasih dari Allah.
Allah berfirman:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ (10) [التحريم/10]
Allah telah membuat permisalan bagi orang kafir, yaitu istri Nabi Nuh dan istri Nabi luth. Keduanya dibawah bimbingan dua hamba Allah yang shalih, namun keduanya berkhianat. Maka tidaklah (Nabi Nuh dan Nabi Luth) berkuasa untuk menyelamatkan keduanya dari adzab Allah sedikitpun. Dan dikatakan kepada keduanya (kelak), “Masuklah kalian ke neraka besama orang-orang yang masuk ke dalamnya” At-Tahrim: 10.

Nah..., Nabi saja tidak bisa menyelamatkan istrinya. Lalu, bagaimana dengan manusia yang lain. Apalagi kalau hanya berpredikat sebagai ustadz, kyai, atau yang semisalnya. Subhanallah, tidak ada yang bisa menyelamatkan kalian dari api neraka Allah. Maka dari itu, sekaranglah saatnya kau bangkit untuk menggagas masa depan. Berusahalah dengan sekuat tenaga untuk menggapai kejaan akhirat.
Wahai anakku..., yuk kita telaah tentang kisah Nabi Muhammad ketika diturunkan kepada beliau ayat”wa andzir asyiratakal ‘aqrabin”. Apa yang beliau Lakukan? Simak baik-baik riwayat berikut ini.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ } دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ فَقَالَ يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ يَا بَنِي مُرَّةَ بْنِ كَعْبٍ يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ وَيَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ وَيَا بَنِي هَاشِمٍ وَيَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ وَيَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلَالِهَا.
Dari Abu Hurairah dia berkata, ketika turun ayat ”wa andzir asyiratakan aqrabin” (dan berilah ancaman kepada keluarga dekatmu), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyeru semua orang Quraisy. Beliau bersabda, “Wahai bani Ka’b bin Luay. Wahai bani Murrah bin Ka’b. Wahai bani Abdi Syams. Wahai bani Abdi Manaf. Wahai bani Hasyim. Wahai bani Abdul Muththalib. Selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah, selamtkan dirimu sendiri dari api neraka. Sesungguhnya aku tak berkuasa untuk keselamatan kalian dari adzab Allah sedikitpun. Hanya saja aku ada hubungan persaudaraan dengan kalian. Aku akan berusaha untuk menjaga hubungan ini. HR. An-Nasa`i.

Sekali lagi, manusia yang berpredikat sebagai Nabi saja tidak dapat menyelamatkan keluarganya dari api neraka, lantas bagaimana dengan manusia selainnya?!!
Wahai anakku..., buanglah jauh-jauh kemalasanmu. Ingatlah kita hidup di dunia ini hanya sebentar. Kita bagaikan musafir yang istirahat sejenak dan akan melanjutkan perjalananya. Perjalanan yang kita tempuh sangat jauh. Perjalanan kita adalah menuju kampung akhirat. Kita membutuhkan bekal yang cukup banyak untuk mendapatkan kebahagiaan dan kemakmuran hidup di jannah Allah.
Ingatlah, umur yang dianugrahkan kepada kita ini adalah amanah. Kita diuji oleh Allah dengan karunia ini. Bagaimana kita menggunakannya? Untuk ketaatan atau kemaksiatan. Beruntunglah orang yang menghabiskan umurnya untuk memperbanyak amal kebaikan. Berbahagialah orang yang mengorbankan kesenangan dunia untuk menggapai keridlaan Allah.
Umur yang kita sangka cukup lama, seratus tahun misalnya, kelak kita akan merasakan bahwa itu adalah waktu yang cukup singkat. Allah berfirman:
وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ (47) [الحج/47]
Dan sungguh satu hari di sisi Pemeliharamu bagaikan seribu tahun yang kalian menghitungnya. Al-Hajj: 47.

Kelak di akhirat, kita akan merasakan bahwa umur hidup kita teramat singkat. Seribu tahun kita hitung di dunia, di akhirat akan terasa satu hari saja. Lalu, bagaimana dengan seratus tahun? Bagaimana dengan delapan puluh, atau lebih rendah dari itu? Maka, tungguh apa lagi. Bersegeralah untuk memperbanyak amal kebaikan. Tinggalkanlah kesibukan yang tak bermakna. Perhatikan setiap langkah dan nafasmu. Manfaat apa yang telah engkau dapat dari nikmat pemberian Allah itu.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ ».
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk baiknya islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermakna bagi dirinya.” HR. At-Tirmidzi.
Nak..., mumpung kamu masih muda. Kesempatan untuk meraih kebaikan sangat luas. Berusahalah untuk menjadi yang terbaik. Tumbuhlah sebagai pemuda yang gigih memperjuangkan agama Allah. Tidakkah kau mengingat sabda nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang tujuh golongan manusia yang kelak akan mendapat naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah saja? Tidakkah kau mengetahui bahwa yang berpeluang banyak untuk meraih kedudukan mulia itu adalah para pemuda? Ya. Kalianlah yang berpeluang untu memborong semua keutamaan tersebut. Mungkin ada baiknya kita menyimak kembali hadits tersebut untuk menambah semangat kita.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ . وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ »
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: 1. Imam (pemimpin) yang adil, 2. Pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Pemeliharanya, 3. Seseorang yang hatinya selalu tertambat di masjid, 4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Keduanya berkumpul karena Allah dan keduanya berpisah karena-Nya. 5. Seseorang yang dirayu seorang wanita yang berkedudukan dan cantik rupa, lalu dia berkata: inni akhafullah (sesungguhnya aku takut kepada Allah), 6. Seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu terhadap apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya. 7. Seseorang yang mengingat Allah di kesepian, lalu kedua matanya melelehkan air mata. HR. Al-Bukhari.

Allahu Akbar..., Engkau berpeluang untuk menjadi tujuh golongan tersebut sekaligus. Gunakanlah kesempatan emas ini sebaik mungkin. Jangan engkau lewatkan dengan sia-sia begitu saja.
Ingatlah..., engkau diciptakan melainkan untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) [الذاريات/56]
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku. Ad-Dzariyat: 56.

Usahakanlah setiap gerak dan langkah dalam hidupmu dalam rangkan beribadah dan mengharap keridlaan Allah. Jadikanlah setiap amalmu penuh makna dan memberatkan timbangan kebaikan di akhiratmu kelak. Berbahagialah jika timbangan amal kebaikanmu sangat berat dan lebih banyak daripada timbangan keburukanmu.
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11) [القارعة/6-11]
Maka adapun orang yang timbangan kebaiannya berat, maka dia akan berada pada kehidupan yang sangat menyenangkan. Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah hawiyah. Taukah kamu apakah dia itu. Dia adalah neraka yang sangat panas. Al-Qari’ah: 6-11.

Allah menciptakan kehidupan dan kematian ini tujuannya adalah untuk menguji manusia, siapakah di antara mereka yang paling banyak amal kebaikannya. Maka berusahalah untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjadilah yang terbaik. Selanjutlah jadilah pelopor dalam melakukan kebaikan.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2) [الملك/2]
Dzat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji mana di antara kalian yang paling baik amalannya. Dan dia adalah Dzat Maha Gagah lagi Maha Pengampun. Al-Mulk: 2.

Kalau begitu, hidup ini untuk bersaing dan berlomba. Siapakah yang terbaik, maka dia yang akan berbahagia. Ya. Memang hidup ini untuk itu, tetapi bersaing untuk kepentingan urusan akhirat. Bukan dalam hal meraih harta kekayaan dunia, akan tetapi untuk meraih kekayaan di akhirat sana. Kita diperintah untuk berlomba-lomba dalam menjalankan segala bentuk kebaikan, amalan maupun ucapan.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ [المائدة/48]
Maka berlombalah untuk melakukan kebaikan. AL-Maidah: 48.

Lalu, tunggu apa lagi? Kalau di hari-hari yang lalu kita tidak mengerti bahwa hidup ini merupakan ladang perlombaan untuk meraih kejayaan abadi di akhirat, maka sejak detik ini kita harus segaera masuk dan bersungguh-sungguh dalam perlombaan ini supaya kita mendapatkan peringkat yang tertinggi dan menjadi pemenang. Ketahuilah! Kita saat ini belum terlambat. Kita masih punya peluang untuk menjadi pemenang dalam perlombaan ini, selagi nyawa masih menyatu dengan raga dan kemauan untuk mencapai finish sangat kuat. Seseorang dikatakan terlambat dalam mengikuti perlombaan ini manakala dia mengalami sakaratul maut, nyawa sudah hampir berpisah dengan tubuh, kemudian dalam keadaan itu dia ingin mengikuti perlombaan. Inilah yang dikatakan terlambat.
Untuk menjadi orang yang terbaik, tidak cukup dengan melakukan kebaikan, sementara dia melupakan segala keburukan, kemaksiatan, dan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Ingat, kita harus menyadari bahwa selamanya kita tidak pernah akan terlepas dari salah dan khilaf. Oleh karena itu, selayaknya bahkan merupakan keharusan dan kewajiban kita untuk selalu memohon ampu kepada Allah kapan dan di manapun. Dalam hal memohon ampun ini kita disuruhkan untuk melakukannya segera mugkin. Ada dalilnya ga ni? Simaklah ayat berikut:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) [آل عمران/133]
Dan bersegeralah kepada ampunan dari pemelihara kalian dan surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Ali Imran: 133.

Di ayat lain, Allah berfirman:
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ [الحديد/21]
Berlombalah kepada ampunan dari pemelihara kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Al-Hadid: 21.

Di saat manusia tersibukkan dengan urusan dunia. Ketika manusia mengabaikan urusan akhirat. inilah kesempatan emas untuk menjadi pemenang dalam perlombaan dalam kehidupan ini. Bersegeralah untuk memohon ampun kepada Allah dan jangan lupa untuk meminta kekuatan dalam menjalankan kebaikan dan ketaatan kepada-Nya hingga akhir hayat.
Anakku..., mungkin sekian dahulu apa yang kiranya ingin aku wasiatkan kepadamu. Semoga yang sedikit ini dapat menggugah hati kecilmu, sehingga engkau tersadarkan karenanya. Aku memohon kepada Allah untuk selalu membimbing dan menunjukimu kepada jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang Allah memberikan nikmat kepada mereka, bukan orang-orang yang dimurkaiNya, dan bukan orang-orang yang tersesat.
Anakku..., bantulah doa baikku ini dengan usaha dan kesungguhanmu. Ayahmu hanya bisa memohon dan berdoa kepada Allah.
Anakku..., aku tidak kuasa menyelamatkanmu dari adzab Allah. Kelak, kita akan tersibukkan dengan urusan pribadi masing-masing. Tak saling peduli. Setiap kita akan diminta tanggung jawab atas segala perbuatan yang pernah kita lakukan semasa di dunia. Bahkan aku kelak akan melupakan dirimu. Oleh karena itu, berusahalah untuk keselamatan dirimu. Jangan pernah bangga dengan apa yang ada pada diri ayahmu. Banggalah dengan apa yang ada pada dirimu. Tetapi, jangan sampai engkau melampaui batas dalam membanggakan dirimu sehingga engkau tergolong orang-orang yang sombong. Cukuplah kamu mengucapkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah yang telah memberi segala karunia kepadamu.


Sekian dariku..., walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

BANTU AKU...

By: AA’ Fillah (Ana Akhukum Fillah): Solo.
BANTU AKU MENJAGA MATAKU...
Tinggalkan masa lalu, ukhti. Ini saatnya kita berpikir jernih: menunda berhias sampai ia menjadi berpahala. Adalah konyol, berhias untuk orang yang belum pasti menjadi menjadi suami atau isteri, sementara di dalamnya kita melanggar larangan Allah dan mengundang murkanya dengan make up perilaku jahiliyah. Dengarlah Allah sendiri mengajakmu bicara:
“...Dan janganlah kalian berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliyah dahulu...” (Al-Ahzab: 33)
Mata adalah jendela hati dan kurir zina. Betapa banyak bencana akibat mata tak terjaga. Dan betapa cerdas si Iblis, yang menyediakan banyak alternatif untuk mengisi retina hati dengan pandangan memabukkan berupa cara berhias dan bertingkah laku jahili. Mentap perilaku dan kelincahan memang membahagiakan. Melihat engkau berhias cantik, pasti membuat aku tertarik. Memandangmu..., walau selalu...,kata seorang penyanyi, tak akan pernah tumbuh jemu di hatiku.
Astaghfirullah, seharusnya kebahagiaan, ketertarikan, dan ketidakjemuan itu tidak perlu hadir jika ia menghadirkan nyala neraka di pelupuk. Engkau lebih tahu bagaimana menjaga dirimu dari mataku. Bantu aku menjaga mata ini, agar kita semua selamat sampai akhir nanti. Bantu aku, bantu aku menjaga mata ini...

BANTU AKU MENGHINDARI KEBISINGAN SYAHWAT
Yang kedua, ingatlah bahwa telingaku bisa jadi adalah gua yang nyaman bagi syaithan. Di sana ada genderang syahwat yang dengan mudah bisa di tabuh dan diperdengarkan. Lengkingan bisikan dahsyat ini bisa meresonasi syaraf-syaraf syahwati.
“...Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan...” (An-Nur: 31)
Tahukah engaku bahwa imajinasi kaum lelaki begitu tinggi? (Ahh..jadi malu!). Betapa ia bisa menelusur dengan detail bayangan atas apa yang ia dengar. Adalah percuma menyembunyikan sesuatu dari seorang lelaki, kalau suaranya masih bisa ditangkap dengan baik oleh telinga. Tak hanya berkait dengan perhiasan yang berbunyi, tetapi suaramu adalah denting-denting frekuensi yang bisa menerbitkan gejolak hati.
“...Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (Al-Ahzab: 32)
Aku tak pernah ingin mengatakan dalam hatiku ada penyakit. Tetapi datangnya sakit kadang tak dikehendaki. Jangan kau katakan, “Ahh itu kan tergantung orangnya. Kalau orangnya ngeres sih apa aja bisa bikin nafsu!” Jangan kau katakan itu. Bukankah kau tahu, meski laki-laki tampak alim dan suci, ada syaithan super ngeres yang bisa hinggap di manapun ia suka. Bantu aku, agar syaithan ngeres itu tahu, kita takkan pernah bisa ia jerumuskan! Selamanya!
BANTU AKU MENJAGA INDRA PEMBAU
Yang ketiga, jangan lupakan hidung. Sebenarnya aku tak tega menyampaikan hadits vonis ini padamu. Tetapi kecintaanku pada Allah dan Rasul yang telah memberikan aturan indah ini jauh lebih besar. Ya, hadits ini bukan memvonismu, tetapi memvonis mereka, wanita-wanita yang suka berparfum ria.
“Wanita mana saja yang memakai haruman kemudian keluar dan lewat di muka orang banyak agar mereka mendapati baunya, maka dia adalah pezina...´(HR. Abu dawud dan At-Tirmidzi).
Ilmu kesehatan masa kini pun jelas menyebutkan bahwa ada sebuah indra pemicu ketertarikan kepada lawan jenis yang letaknya di hidung. Sekali lagi, imajinasi lelaki adalah tinggi. Jangan tanya, mana yang lebih tajam penciumannya terhadap aroma syahwati, laki-laki yang dikuasai syaithan ataukah anjing pemburunya.
KULITKU SANGAT PEKA
Yang keempat, kulit adalah tempat indera perasa. Jika tak dijaga, banyak rasa yang akan hinggap kemudian meninggalkan kesan di sana. Rasa yang bisa menerbangkan kesucian diri dan menanggalkan pakaian malu...hingga yang tersisa tak lebih baik daripada tusukan jarum besi menyala di kepala.
“Sungguh, jika kepala salah seorang dari kalian dicerca dengan jarum besi menyala, adalah masih lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tiada halal baginya.´( HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi).
Apakah kenangan persentuhan kulit mudah dilupakan? Kalau jawabannya tidak, kita jadi tahu betapa bahayanya ia dalam rentang waktu ke depan terhadap angan dan pikiran. Tetapi, kalau jawabannya ya, pasti si penjawab ini sudah sering melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar sentuhan hingga kulitnya tak lagi peka. Bantu aku, agar jarum besi menyala itu tak pernah hadir dalam kehidupan kita, sejak detik ini sampai nanti ketika kita divonis di pengadilan Allah yang Maha Tinggi.